Langsung ke konten utama

Benteng Belanda di Surabaya

 

    Disambut dengan terik panas, penulis datang mengunjungi Benteng Kedung Cowek yang ada di sisi utara Kota Surabaya. Benteng tersebut terdiri dari dua lantai. Sederet benteng membentang dari barat ke timur. Benteng peninggalan Belanda itu masih kokoh meskipun terdapat sedikit keretakan. Sisi atas benteng yang sudah berusia ratusan tahun itu dihinggapi dengan berbagai macam tanaman liar. 
(Benteng Kedung Cowek. Dokumen Penulis)

Benteng Kedung Cowek, disebut juga Batterij Kedoeng Tjowek adalah sebuah benteng yang terletak di sisi utara Surabaya, lebih tepatnya utara agak ke timur. Benteng tersebut berada di dekat Selat Madura yang juga berdekatan dengan Jembatan Suramadu, jembatan penghubung Pulau Jawa dengan Pulau Madura.

Menurut Ady Setiawan, seorang penulis buku “Benteng-Benteng di Surabaya”, pembangunan benteng tersebut berkaitan dengan instalasi militer yang ada di Surabaya, seperti lapangan terbang di Morokrembangan, pelabuhan sipil Tanjung Perak, dan pelabuhan militer yang sekarang menjadi milik TNI AL, sehingga pembangunan benteng itu perlu untuk dilakukan untuk melindungi instalasi militer di Surabaya. “Pada tahun 1899, di koran-koran itu sudah ramai pro-kontra pembangunan karena memakan biaya yang cukup besar, itu yang pertama, yang kedua adalah pantai di Surabaya itu tanahnya ambles alias lunak tanahnya” pungkas Ady Setiawan tentang pro-kontra pembangunan Benteng Kedung Cowek.

    Benteng Kedung Cowek yang terletak di Surabaya, pertama kali disinggung oleh surat kabar De Locomotief pada tanggal 30 Oktober 1899. Dalam surat kabar tersebut dituliskan bahwa pemerintah kolonial Hindia Belanda menganggarkan biaya untuk membangun Benteng Kedung Cowek sebesar 66 ribu Gulden. Menurut arsip berbahasa Belanda yang disimpan oleh National Archief, Inventaris van kaarten en tekeningen behorende tot het archief van het Ministerie van Kolonien en rechstopvolgers, (1702), 1814-1963, Pembangunan benteng tersebut di bawah arahan Kapten Zeni, F.G. Proper.  

    Menurut Ady Setiawan, Benteng Kedung Cowek dibangun pada tahun 1900. “Jadi kalau berdasarkan arsip surat kabar sezaman, itu (pembangunan Benteng Kedung Cowek) tahun 1900 dan itu cocok dengan cetak biru (blueprint) yang saya dapatkan waktu ke Belanda, dan itu memang ditandatangani 1900 dan penanggung jawab pembangunan benteng, di surat kabar, dituliskan namanya adalah Kapten Proper, dan di cetak biru juga namanya Kapten Proper”, ujar Ady.   

    Pembangunan Benteng Kedung Cowek atau Batterij Kedoeng Tjowek ternyata mengalami sedikit masalah. Hal tersebut terletak pada absennya sang “mandor”, yaitu Kapten Zeni, F.G. Proper yang jatuh sakit. Sang kapten harus mengajukan cuti beberapa bulan karena harus pergi ke Preanger (Priangan). Pada 14 Desember 1900, seperti diberitakan oleh koran De Locomotief, terdapat pergantian pengawas pembangunan Benteng Kedung Cowek, karena F.G. Proper sendiri sedang sakit dan pekerjaan dilanjutkan sementara oleh Letnan Kuyper. 

    Benteng pertahanan Kedung Cowek mulai nampak bentuknya pada tahun 1901, hal tersebut dapat dikonfirmasi melalui laporan surat kabar De Sumatra Post tanggal 29 November 1901. “Baterai pertahanan pantai sisi timur mulai dipersenjatai. Baterai pantai Kedung Cowek direncanakan akan selesai pada bulan Februari”. Benteng Kedung Cowek atau Batterij Kedoeng Tjowek, awalnya direncanakan akan selesai pada bulan Februari 1902, hal tersebut dapat dilihat dari laporan De Sumatra Post yang menuliskan berita tersebut pada tanggal 29 November 1901. 

    Mengenai selesainya benteng tersebut, terdapat berbagai versi penambahan artileri di bagian Benteng Kedung Cowek. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Benteng Kedung Cowek tersebut tidak serta-merta selesai tanpa ada penambahan sedikitpun. Seperti yang diberitakan oleh surat kabar Soerabaiasch Handelsblad, 15 Juli 1902, pada halaman keenam, disebutkan jika terdapat penambahan meriam berkaliber 150 mm di pertahanan pantai Kedung Cowek. 

    Berita tersebut juga diperkuat oleh laporan surat kabar Algemeen Handelsblad, 18 April 1936, yang menuliskan bahwa, “saat ini pembangunan benteng baterai sisi pantai secara bertahap mendekati penyelesaian”. Semua hal yang sudah dipaparkan di atas menunjukkan bahwa Batterij Kedoeng Tjowek atau Benteng Kedung Cowek, tidak sekali jadi alias membutuhkan beberapa tahap untuk menyelesaikan benteng tersebut. 

Hal tersebut juga kembali diperkuat dengan pendapat Ady Setiawan, yang menyatakan dalam  wawancara dengan penulis. “Kalau dikatakan selesai itu sulit. Kenapa? Dia selalu mengalami penambahan, sampai menjelang datangnya Jepang, itu masih ada penambahan-penambahan terus”.

Pasukan Sriwijaya

Setelah dibangun, Benteng Kedung Cowek, menurut buku yang ditulis oleh Batara R. Hutagalung, 10 November Mengapa Inggris Membom Surabaya?, Analisa Latar Belakang Agresi Militer Inggris, sempat menjadi sebuah arena pertempuran antara “Pasukan Sriwijaya” melawan pasukan Inggris di benteng Kedung Cowek tersebut. “Pasukan Sriwijaya” adalah kelompok pasukan yang merupakan mantan anggota Gyugun. 

Pada saat Jepang menyerah, salah satu efek dari penyerahan tersebut adalah pembubaran Gyugun itu sendiri. Salah satu yang terkena imbas dari pembubaran tersebut adalah Gyugun dari Morotai. Setelah pembubaran, mereka yang pada awalnya anggota Gyugun, berupaya keluar dari Morotai, dengan berbagai cara. Sebagian terdampar di Sulawesi Selatan dan juga ada yang terdampar di Madura. 

Dari Madura mereka menyeberang ke Surabaya dan secara kebetulan mereka berjumpa dengan Kolonel dr. Wiliater Hutagalung. Setelah mereka diberitahu oleh Hutagalung bahwa Indonesia telah merdeka dan dianjurkan olehnya kepada mereka untuk membentuk pasukan sendiri. 

Setelah mengatur pangkat dan memilih pemimpinnya, mereka menamakan diri mereka sendiri sebagai "Pasukan Sriwijaya." Mereka yang ahli dalam menggunakan meriam pun ditempatkan di Benteng Kedung Cowek, sebuah benteng yang pernah dibangun oleh Belanda di Kedung Cowek, Surabaya. 

Pada saat pasukan Inggris datang dan menembaki Surabaya, sebagai bagian dari pertempuran 10 November, Inggris terkejut ketika ketika melihat perlawanan dari Benteng Kedung Cowek. Jika dilihat dari kualitas tembakannya, tembakan tersebut dianggap Inggris sebagai tembakan dari para tentara Jepang yang menolak menyerah. Dikutip dari buku Melacak Jejak Tembok Kota Soerabaia, “Pasukan Sriwijaya” yang bertempur di Benteng Kedung Cowek, hanya mengandalkan kemampuan bertempur yang mereka dapatkan pada saat mereka bertempur membantu Jepang melawan tentara Amerika di Morotai. 

Kisah pertemuan Wiliater Hutagalung dengan para pasukan Sriwijaya yang berjuang di Benteng Kedung Cowek tersebut diperkuat dalam biografinya Autobiografi Letkol TNI (Purn) dr. Wiliater Hutagalung, Putra Tapanuli Berjuang di Pulau Jawa, yang disebutkan bahwa ketika Wiliater Hutagalung bertemu dengan “pasukan Sriwijaya” tersebut. “Pada suatu pagi ketika saya berjalan kaki di Simpang, saya melihat dua orang pria yang tampaknya sedang kebingungan, badan mereka terlihat kurus dengan pakaian compang-camping”. Wiliater pun mendapati mereka berbicara dalam bahasa Tapanuli dan ia bersama para petualang yang terdampar itu berbicara menggunakan bahasa daerah mereka. 

    Pada saat pertempuran tiga hari pada bulan Oktober dan pada pertempuran 10 November, diperkirakan sepertiga dari “Pasukan Sriwijaya” tersebut tewas dan bahkan ada beberapa yang tidak sempat dikuburkan dengan layak. Sebagian besar dari mereka, “pasukan Sriwijaya”, tewas di Benteng Kedung Cowek. Karena kondisi perang yang masih berkecamuk, maka mereka tidak sempat dikuburkan dengan layak.  

    Masih dalam buku yang sama, disebutkan bahwa pada masa itu, terdapat benteng yang menghadap ke arah selat Madura, yang belum sempat digunakan oleh Belanda dan setelah Jepang menyerah, benteng tersebut masih utuh. Hal tersebut menunjukkan bahwa Benteng Kedung Cowek, pada masa Hindia Belanda, belum pernah digunakan untuk berperang. Ketika Indonesia merdeka, para pejuang dari Tapanuli, yaitu "Pasukan Sriwijaya", berhasil menggunakan peralatan Benteng Kedung Cowek untuk menghalau serangan Inggris. 

Daftar Pustaka

Batara Richard Hutagalung. (2001). 10 November ’45. Millenium Publisher.

Wiliater Hutagalung. (2016). Autobiografi Letkol TNI (Purn.) dr. Wiliater Hutagalung. Yogyakarta, Matapadi Presindo.

Inventaris van kaarten en tekeningen behorende tot het archief van het Ministerie van Kolonien en rechstopvolgers. (1702), 1814-1963.

De Locomotief, 30 Oktober 1899.

De Locomotief, 14 Desember 1900.

De Sumatra Post, 29 November 1901.

Soerabaiasch Handelsblad, 15 Juli 1902.

Algemeen Handelsblad, 18 April 1936.

Wawancara penulis dengan Ady Setiawan, 27-10-2024

Penulis: Pramadam Muhamad Anwar
Editor: Artaqi Bi Izza A.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Essence

                 (Photo by Pramadam Muhamad Anwar) One photo, millions of meanings. Yep, you read it correctly. Protesting, couples holding hands, merchants trying to sell their products to the protesters hoping that they could achieve some revenues by selling their stuff.  Motorbikes, especially scooters were parked at the side of the road.  Water Cannon, that was being parked inside the Palace of the Governor of East Java,  (a car-like vehicle that is used by the Indonesian Police) was bursting its content, pressurized-water towards the protesters.  During the protest in Surabaya, (24/3/2025), the atmosphere that arose from the situation was just like one of The Beatles’ song called Helter Skelter . It was very tense and kind of intriguing to be able to stand as one of the protesters towards the Government’s Policy about The National Indonesian Army Regulation.  Estimated over hund...

Peran Pendidikan, Kesehatan, dan Hak Pekerja

Pendidikan sebagai Fondasi Pendidikan adalah fondasi utama dalam pembangunan masyarakat yang adil, beradab, dan bebas. Dalam kerangka Sosialisme Demokratis, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana mencetak tenaga kerja, melainkan sebagai instrumen pembebasan manusia. Tujuan pendidikan bukan untuk menundukkan individu kepada sistem yang otoriter atau tunduk kepada dogma-dogma lama yang tidak rasional, melainkan membangun manusia yang berpikir kritis, rasional, beradab, dan berani mempertanyakan ketimpangan serta ketidakadilan di sekelilingnya. Rasionalitas dalam Pendidikan Pendidikan harus berakar pada rasionalitas, bukan pada mistikalisme, fanatisme buta, atau tradisi yang tidak relevan dengan kemajuan akal manusia. Namun demikian, nilai-nilai budaya tetap dihormati sejauh budaya tersebut selaras dengan nalar, memperkuat semangat egalitarianisme, dan menghargai martabat manusia. Pendidikan yang rasional tidak memusuhi budaya, tetapi mengkritisinya dan memilih aspek-aspek yang m...

Ekonomi Kerakyatan dan Ketimpangan Sosial di Indonesia

  Pendahuluan: Sebuah Gambaran Umum Memasuki pertengahan tahun 2025, ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang cukup kuat setelah berbagai gejolak global seperti krisis energi, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian pasar finansial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,12% pada triwulan II tahun 2025, sedikit meningkat dibanding kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, ekspor komoditas utama, serta stabilitas moneter yang relatif terjaga. Namun dibalik angka pertumbuhan yang tampak menjanjikan tersebut, tersimpan sebuah ironi sosial yang mencerminkan jurang ketimpangan yang kian melebar. Kaum proletar dan rakyat kecil kian terdesak oleh kekuatan borjuasi modern yang menguasai sektor finansial, industri besar, dan politik kebijakan. Kelas menengah, yang semestinya menjadi penyeimbang, justru semakin terbebani oleh inflasi, stagnasi pendapatan, serta ketidakpastian pekerjaan...