Langsung ke konten utama

Ketika Alex Ferguson Batal Pensiun Karena Ketiduran

Klub sepakbola asal Manchester, Britania Raya, Manchester United meraih hasil imbang kala kontra Aston Villa pada tanggal 6 Oktober 2024. Manajer Manchester United saat itu, Erik Ten Hag mendapat sejumlah pertanyaan pedas saat melakukan konferensi pers. Seperti dikutip dari laman resmi Klub Manchester United, Ia dilontari pertanyaan mengapa timnya tidak bisa mencetak gol dalam laga kontra Aston villa. Ia menjawab pertanyaan tersebut dengan berdalih bahwa hal tersebut (mencetak gol) akan datang dan ia “menyeret” striker Manchester United, Rasmus Hojlund, bahwa sang striker belum mencapai performa 100 persennya.
Stadium Old Trafford, markas Manchester United. Foto oleh Samuel Regan-Asante di Unsplash

Setelah ditinggal oleh manajer legendaris mereka, Sir Alex Ferguson, Manchester United masih meraba-raba kejayaan mereka. Pria asal Skotlandia tersebut merupakan salah satu manajer Manchester United tersukses sepanjang sejarah mereka. Pria berumur 82 tahun tersebut, lahir pada tanggal 31 Desember 1941, hampir separuh dari karir manajerial sepakbolanya dihabiskan di Manchester United. Karirnya di Manchester United dimulai pada tahun 1986 dan berakhir pada tahun 2013, hampir 27 tahun kariernya sebagai manajer sepakbola dihabiskan di Manchester United. 

Selain terkenal karena ia berhasil mendapatkan gelar Premier League — Liga Primer Inggris — Ia juga terkenal karena bagaimana Ferguson memperlakukan anak buahnya (para pemain) ketika mereka membuat kesalahan.

Praktik tersebut dikenal dengan Hairdryer Treatment. Salah satu korban dari Hairdryer Treatment tersebut adalah David Beckham, yang disebutkan dalam buku autobiografi Sir Alex Ferguson yang berjudul,  Alex Ferguson, My Autobiography, halaman 71. 

Pada bulan Februari 2003, tepatnya pada babak kelima piala FA kontra Arsenal, ketika itu Manchester United harus menelan kekalahan 2-0. Beckham yang dianggap tidak banyak melakukan pertahanan dan malah sering menyerang, menjadi sasaran omelan Ferguson sekaligus harus terkena sepatu di kepalanya. 

Ketika itu tergeletak banyak sepatu di lantai dan Ferguson mendengar David Beckham mengumpat, Ferguson pun berjalan menghampirinya sekaligus menendang sepatu yang tergeletak tersebut. Sepatu itu menyasar kepala Beckham dan sisanya adalah sejarah. Foto Beckham menggunakan plester di alisnya menjadi topik hangat di media. 

Nama dari praktik tersebut, Hairdryer treatment, demikian karena “omelan” dari sang mantan manajer Manchester United tersebut layaknya sebuah mesin pengering rambut, hairdryer, yang terlontarkan dari mulut pria berusia 82 tahun kelahiran Govan, Glasgow, Skotlandia tersebut. 

Selain hairdryer treatment, ada hal menarik lain yang pernah dilakukan oleh mantan manajer tersukses Manchester United tersebut. Pada natal tahun 2001, terjadi perdebatan hebat di keluarganya. Ferguson, kala itu masih terlelap di sofanya, setelah ia bangun, ia mendapatkan “vonis” dari anak dan istrinya. Setelah berdebat, anak dan istrinya memutuskan untuk tidak membiarkan sang manajer Manchester United untuk pensiun.

Seperti yang diceritakan oleh Fergie, panggilan akrab Ferguson, dalam buku autobiografinya, ia memiliki keinginan untuk pensiun setelah ia berhasil menjuarai Liga Champions Eropa. Ia berhasil memenangkan kompetisi sepakbola dengan prestise yang tertinggi di Eropa tersebut pada tahun 1999 dalam kemenangan dramatis melawan Bayern Munchen di Barcelona. Fergie tak ingin mengulangi apa yang ia sebut sebagai Sindrom Matt Busby, yang juga seorang manajer Manchester United pada era yang disebut sebagai “Busby Babe”. 

Fergie sudah merasa puas dengan pencapaiannya sehingga ia memutuskan untuk pensiun sebagai seorang manajer sepakbola. Namun, keinginan tersebut batal terealisasikan sebab ia tertidur di sofanya, pada saat para anggota keluarga yang lain sedang menggodok keputusan Fergie tersebut dan pada akhirnya memveto keputusan tersebut. 

Andaikata Fergie tak tertidur pada malam natal tahun 2001, mungkin kita saat ini tidak akan menyaksikan kehebatan Manchester United di Premier League, yang pada masa kepemimpinannya Manchester United berhasil meraih gelar kampiun Inggris sebanyak 20 kali atau kita juga tidak akan menyaksikan rivalitas antara Jose Mourinho dan Alex Ferguson yang pada suatu kesempatan mencapai titik didihnya. 

Kita juga tidak akan menyaksikan bagaimana ia bersusah payah melawan FC Barcelona yang diasuh oleh Josep “Pep” Guardiola, pada tahun 2009 dan 2011, yang menurutnya, “Kecil itu Indah”. Bahkan, pada halaman 41, pada buku Alex Ferguson, My Autobiograhy, disebutkan bahwa terdapat kemungkinan jika Sven-Goran Eriksson akan menjadi penggantinya. 

Kita patut bersyukur bahwa Fergie mengurungkan niatnya untuk pensiun. Pada akhirnya, ia betul-betul pensiun pada tahun 2013, setelah ia berhasil mempersembahkan gelar Premier League ke-20 untuk Manchester United, klub terakhir yang ia manajeri, setidaknya hingga tulisan ini diterbitkan.

Daftar Pustaka

Brown, Matthew. (2024). Every word: Ten Hag’s post-Villa press conference. [online] Google.com.  https://www.google.com/amp/s/www.manutd.com/en/amp/news/detail/every-word-from-erik-ten-hag-press-conference-after-aston-villa-0-man-utd-0-on-6-october-2024 [Diakses pada 16 Oktober 2024].

Ferguson, Alex. (2013). Alex Ferguson: My Autobiography. Hodder & Stoughton.

Penulis: Pramadam Muhamad Anwar

Editor: Artaqi Bi Izza

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Essence

                 (Photo by Pramadam Muhamad Anwar) One photo, millions of meanings. Yep, you read it correctly. Protesting, couples holding hands, merchants trying to sell their products to the protesters hoping that they could achieve some revenues by selling their stuff.  Motorbikes, especially scooters were parked at the side of the road.  Water Cannon, that was being parked inside the Palace of the Governor of East Java,  (a car-like vehicle that is used by the Indonesian Police) was bursting its content, pressurized-water towards the protesters.  During the protest in Surabaya, (24/3/2025), the atmosphere that arose from the situation was just like one of The Beatles’ song called Helter Skelter . It was very tense and kind of intriguing to be able to stand as one of the protesters towards the Government’s Policy about The National Indonesian Army Regulation.  Estimated over hund...

Peran Pendidikan, Kesehatan, dan Hak Pekerja

Pendidikan sebagai Fondasi Pendidikan adalah fondasi utama dalam pembangunan masyarakat yang adil, beradab, dan bebas. Dalam kerangka Sosialisme Demokratis, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana mencetak tenaga kerja, melainkan sebagai instrumen pembebasan manusia. Tujuan pendidikan bukan untuk menundukkan individu kepada sistem yang otoriter atau tunduk kepada dogma-dogma lama yang tidak rasional, melainkan membangun manusia yang berpikir kritis, rasional, beradab, dan berani mempertanyakan ketimpangan serta ketidakadilan di sekelilingnya. Rasionalitas dalam Pendidikan Pendidikan harus berakar pada rasionalitas, bukan pada mistikalisme, fanatisme buta, atau tradisi yang tidak relevan dengan kemajuan akal manusia. Namun demikian, nilai-nilai budaya tetap dihormati sejauh budaya tersebut selaras dengan nalar, memperkuat semangat egalitarianisme, dan menghargai martabat manusia. Pendidikan yang rasional tidak memusuhi budaya, tetapi mengkritisinya dan memilih aspek-aspek yang m...

Ekonomi Kerakyatan dan Ketimpangan Sosial di Indonesia

  Pendahuluan: Sebuah Gambaran Umum Memasuki pertengahan tahun 2025, ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang cukup kuat setelah berbagai gejolak global seperti krisis energi, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian pasar finansial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,12% pada triwulan II tahun 2025, sedikit meningkat dibanding kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, ekspor komoditas utama, serta stabilitas moneter yang relatif terjaga. Namun dibalik angka pertumbuhan yang tampak menjanjikan tersebut, tersimpan sebuah ironi sosial yang mencerminkan jurang ketimpangan yang kian melebar. Kaum proletar dan rakyat kecil kian terdesak oleh kekuatan borjuasi modern yang menguasai sektor finansial, industri besar, dan politik kebijakan. Kelas menengah, yang semestinya menjadi penyeimbang, justru semakin terbebani oleh inflasi, stagnasi pendapatan, serta ketidakpastian pekerjaan...