Langsung ke konten utama

Tragedi Hotel Yamato

Tanggal 18 September 1945, pasukan Sekutu yang tergabung dalam Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI) yang berada dibawah kendali AFNEI tiba di Surabaya. Satuan ini memiliki tugas untuk mengurus tawanan Belanda sekaligus melucuti sisa-sisa tentara Jepang. Mereka menjadikan hotel Yamato sebagai markas bantuan rehabilitasi untuk tawanan perang dan Interniran.
Hotel Yamato (Sekarang Hotel Majapahit) dan Teks Peringatan Peristiwa 19 September (Wikimedia Commons).

Tanggal 19 September 1945, tepatnya pada pukul 21:00, sekelompok orang dari pihak Belanda dibawah komando W.V.C Ploegman, diperintahkan untuk mengibarkan bendera Belanda di atas hotel Yamato tanpa seiizin pemerintah Surabaya. Keesokan harinya, para warga yang melintas di depan hotel Yamato dibuat terkejut dan marah karena Belanda telah melecehkan harga diri Indonesia. Massa yang kesal pun mendatangi hotel Yamato untuk memprotes tindakan Belanda. Residen Soedirman yang dikawal oleh Sidik dan Haryono, kemudian bernegosiasi dengan Ploegman agar mau menurunkan bendera Belanda. Akan tetapi negosiasi tersebut berjalan alot lantaran Ploegman menolak mengakui kedaulatan Indonesia.

Perundingan pun semakin memanas setelah Ploegman menodongkan senapannya ke arah Residen Soedirman. Perkelahian pun tak terelakan Ploegman tewas setelah dicekik Sidik, malangnya Sidik juga gugur dalam perlawanan setelah pisau yang dilemparkan oleh prajurit Belanda mengenai tubuhnya.

Di luar hotel Hariyono mendaki ke atas puncak hotel. Di saat yang sama pemuda yang bernama Koesno Wibowo juga mendaki ke tempat yang sama. Tanpa pikir panjang Koesno merobek bagian biru di bendera Belanda lalu membuangnya sehingga hanya menyisakan bagian merah dan putih. Kain yang telah dirobek tadi kembali dikibarkan sambil meneriakan “Merdeka” berulang kali.

Sumber:

Setyaningrum, Puspasari. Insiden Hotel Yamato : Penyebab, Kronologi, Dampak dan Tokoh. Kompas.com. Diakses pada tanggal 8 November 2024.

Sugita, N.M. 19 September 1945, Saat Arek Suroboyo Robek Bendera Belanda di Hotel Yamato. Detikjatim. Diakses pada tanggal 8 November 2024.

Wirayudha, Randy. Meluruskan Kembali Peristiwa Insiden Bendera di Surabaya. Historia.id. Diakses pada tanggal 8 November 2024.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemerdekaan yang Terkoyak: Saat Rakyat Menjadi Bos yang Dilupakan

Kemerdekaan sejatinya adalah hadiah abadi bagi bangsa, namun pada usia 80 tahun Republik ini, kita perlu bercermin dengan logika yang jernih. Qiyas dalam hukum Islam mengajarkan bahwa jika sebuah penyakit memiliki sebab yang sama, maka obatnya pun serupa; korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) adalah penyakit lama yang selalu berulang karena sebabnya adalah keserakahan manusia yang tidak pernah diawasi dengan serius. Maka, sebagaimana penyakit tubuh harus disembuhkan dengan disiplin, penyakit politik dan hukum Indonesia hanya bisa disembuhkan dengan supremasi sipil yang berani menegakkan hukum atas para elit dan aparat. Tanpa itu, kemerdekaan hanyalah slogan, bukan realitas. Dialektika Hegel mengajarkan bahwa sejarah adalah pertempuran antara tesis dan antitesis yang melahirkan sintesis. Namun, di Indonesia, yang lahir bukan sintesis, melainkan kompromi busuk: rakyat menuntut keadilan, elit menjawab dengan janji, lalu kompromi terjadi dalam bentuk kebijakan setengah hati yang tetap mengu...

Lagu Kebangsaan Vietnam: Sejarah dan Perjalanannya

            Lagu kebangsaan memainkan peran signifikan dalam mencerminkan identitas nasional dan semangat perjuangan sebuah negara. Vietnam tidak terkecuali, dengan sejarah pencarian lagu kebangsaan yang penuh dinamika, mencerminkan perjalanan negara ini menuju kemerdekaan dan kedaulatan. Masyarakat Vietnam sendiri memiliki tradisi musik ritual yang kental, sebagian besar dipengaruhi oleh budaya Cina.                 Pada awal abad ke-20, Vietnam berada di bawah kekuasaan kolonial Prancis. Rakyat Vietnam mengalami penindasan yang brutal, dan berbagai gerakan perlawanan mulai bermunculan. Ketika gelombang nasionalisme mulai merebak, lagu kebangsaan mulai muncul sebagai simbol identitas nasional modern. Lagu kebangsaan pertama Vietnam yang mencerminkan semangat nasional adalah adaptasi dari musik istana dengan pengaruh Barat, seperti lagu kebangsaan Annam ( Quoc ca Annam ). Musik tradisional ini, meskipun...

Ekonomi Kerakyatan dan Ketimpangan Sosial di Indonesia

  Pendahuluan: Sebuah Gambaran Umum Memasuki pertengahan tahun 2025, ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang cukup kuat setelah berbagai gejolak global seperti krisis energi, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian pasar finansial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,12% pada triwulan II tahun 2025, sedikit meningkat dibanding kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, ekspor komoditas utama, serta stabilitas moneter yang relatif terjaga. Namun dibalik angka pertumbuhan yang tampak menjanjikan tersebut, tersimpan sebuah ironi sosial yang mencerminkan jurang ketimpangan yang kian melebar. Kaum proletar dan rakyat kecil kian terdesak oleh kekuatan borjuasi modern yang menguasai sektor finansial, industri besar, dan politik kebijakan. Kelas menengah, yang semestinya menjadi penyeimbang, justru semakin terbebani oleh inflasi, stagnasi pendapatan, serta ketidakpastian pekerjaan...