Langsung ke konten utama

Banjir dan Kita, Sebuah Refleksi Banjir Era Kolonial Belanda


Bencana banjir merupakan salah satu bentuk bencana yang melibatkan air. Bencana tersebut berefek pada berbagai macam hal. Seperti contoh, banjir dapat menghanyutkan rumah, melumpuhkan armada transportasi umum, memaksa penduduk mengungsi ke daerah yang tidak terdampak banjir, dan bahkan kematian. 

Tak ayal, Piers Blaikie menyebutkan jika banjir merupakan bencana yang paling merugikan dibandingkan bencana yang lain. Jika kita mengacu kepada pendapat Stadelmann, banjir adalah bencana alam tertua yang terekam dalam sejarah umat manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, banjir berarti terbenamnya suatu daerah yang tidak seharusnya terbenam, oleh air, karena peningkatan volume air. Dalam sebuah artikel berjudul 7 Penyebab Banjir di wilayah perkotaan yang Padat Penduduknya, Petrus N. Rahardjo menyebutkan ada 7 penyebab banjir di perkotaan padat penduduk. Mereka adalah: pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan, tidak adanya pola hidup bersih, tidak adanya drainase yang baik, tidak adanya konsistensi pihak berwenang dalam RT/RW, hingga curah hujan yang tinggi. 

Dewasa ini banjir kerap kali melanda kota-kota besar di Republik Indonesia, seperti Jakarta, Padang, Surabaya, hingga Semarang. Tak jarang banjir datang sebagai bencana musiman yang kerap kali menghantui masyarakat kota. Pada tahun 2024, Banjir melanda Padang dan menggenangi jalan, begitu pula di Jakarta, pada tahun 2024, banjir juga melanda kota terbesar di Indonesia tersebut yang mengakibatkan 12 Rukun Tetangga dan 22 ruas jalan terendam oleh air luapan banjir

Pembahasan artikel ini akan difokuskan kepada bencana banjir yang melanda Jakarta, Padang, Surabaya, dan Semarang, pada era kolonial Belanda. Keempat kota tersebut penulis pilih untuk dijadikan topik bahasan, karena keempat kota tersebut baru-baru ini (yaitu pada tahun 2024) pernah dilanda banjir. Di Batavia (Jakarta), banjir sudah akrab dengan daerah tersebut sejak masa awal Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), yaitu pada zaman kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen, J.P. Coen, Ia memerintahkan Simon Stevin, pada tahun 1619, untuk membangun sebuah kota di muara Sungai Ciliwung. Pada masanya, Batavia merupakan sebuah pemukiman yang dikelilingi oleh parit, tembok, dan kanal. Berbagai kanal sengaja dibangun dengan harapan mengatasi banjir.

Seperti yang tertulis dalam koran De Tribune Stand: soc. demo. (sebuah majalah mingguan), disebutkan bahwa pada tanggal 14 Februari 1918, akibat hujan deras dan banjir yang dahsyat, separuh wilayah Batavia terendam banjir, bahkan beberapa kampung juga ikut hanyut. Banjir yang terjadi di Batavia berdampak pada beberapa wilayah seperti, Distrik Rijswijk, Noordwijk, Koningsplein (Jalan Medan Merdeka), hingga Waterlooplein (Lapangan Banteng).

Ilustrasi Banjir

Di Surabaya, Banjir juga pernah tercatat dalam era kolonial Belanda, yaitu pada tahun 1866,1872, 1878, 1886, yang diakibatkan oleh buruknya sistem drainase. Namun, banjir pada tahun 1868 dan 1896, banjir disebabkan oleh hal berbeda, yaitu meluapnya sungai dan jebolnya tanggul Kali Wonokromo. Selain itu, banjir di Surabaya pada era kolonial juga disebabkan oleh hujan lebat, drainase yang buruk, dan air pasang (di Surabaya utara). Khusus di Surabaya, terdapat hal menarik yang dapat diulas, yaitu ketika keberpihakan pers Eropa dipertanyakan oleh pers lain, Pewarta Soerabaia. Hal tersebut terjadi ketika pemberitaan pers Eropa kerap kali “ribut” ketika banjir terjadi di pemukiman Eropa, sebaliknya, jika banjir terjadi di kawasan orang Tionghoa tinggal, yang telah berubah menjadi “rawa” hanya didiamkan oleh pers Eropa.

Begitu juga di Semarang era Hindia Belanda, lebih tepatnya pada tahun 1912, yang diwartakan oleh De Sumatra Post, di dalam koran tersebut disebutkan jika terdapat tiga kampung di Semarang terendam banjir. Pada tahun 1937, di antara jalan yang menghubungkan Medan dan Padang, sebagaimana yang diberitakan oleh Dagblad van Noord-Brabant, terjadi banjir yang melumpuhkan lalu lintas antara dua daerah tersebut. Banjir tersebut juga memakan korban jiwa sebanyak 40 orang. 

Dengan berkaca kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas, yang terjadi di empat daerah besar di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa bencana banjir merupakan bencana yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Dewasa ini, pada tahun 2024, permasalahan di keempat kota tersebut juga belum segera mendapatkan titik cerah. Padang, Surabaya, Jakarta, dan Semarang, semuanya masih mengalami bencana banjir di tahun 2024 ini. 

Dimulai dari Surabaya terlebih dahulu, pada tanggal 17 Februari 2024, wilayah Surabaya bagian barat yakni di wilayah Pakal dilanda banjir setelah diguyur hujan selama empat jam. Di Padang, pada tanggal 7 Maret 2024, juga dilanda banjir setelah diguyur hujan sejak jam 14.00. Hingga Jumat pagi tanggal 8 Maret 2024, air belum juga surut. Hujan deras mengguyur wilayah Jakarta pada tanggal 25 Mei 2024, sedangkan di Semarang juga dilanda banjir pada bulan Maret 2024. 

Berkaca pada paparan yang sudah ada di atas, permasalahan banjir di keempat kota besar tersebut dapat dibilang permasalahan yang cukup pelik, mengingat bencana banjir tersebut sudah eksis sejak masa penjajahan Belanda. Lantas, langkah apa yang ditempuh pemerintah daerah setempat untuk mengatasi bencana banjir tersebut? 

Dari Surabaya, kita dapat melihat bahwa Pemerintah Kota Surabaya berupaya menangani banjir dengan cara membangun belasan rumah pompa, lain halnya di Jakarta, salah satu upaya yang dilakukan adalah pengerukan Kali Ciliwung. Di Padang, Kementerian PUPR mengucurkan dana fantastis sebesar 135 miliar rupiah untuk mengatasi banjir akibat luapan sungai Batang/Kandis di Kota Padang. Lain halnya di Semarang, pemerintah berupaya untuk menormalisasi sungai, meninggikan jalan, serta menambahkan pintu airBercermin pada kedua persamaan yang ada di zaman kolonial Belanda dan Republik Indonesia, sudah sepatutnya banjir diatasi dengan baik. Permasalahan pelik yang tidak kunjung usai, ialah banjir, bencana yang menurut Piers Blaikie yang paling merugikan dibandingkan bencana-bencana lain. 

Pemerintah harus bahu-membahu dengan masyarakat untuk mengatasi persoalan klasik ini. Tidak ada ruang bagi pembuang sampah sembarangan, upaya penanganan banjir haruslah diteruskan dan segera mungkin diefektifkan. Mengingat riwayat banjir yang sedemikian rupa lamanya, sejak masa kolonial Belanda, maka banjir tidak bisa dianggap remeh. Jangan sampai hanya karena banjir merupakan masalah yang sudah lama eksis di Nusantara, maka banjir justru dianggap biasa. Hal tersebut justru menunjukkan bahwa banjir adalah permasalahan yang harus segera ditangani karena masalah tersebut tidak kunjung diselesaikan sejak masa kolonial. Justru, oleh karena ia adalah sebuah masalah yang sudah begitu mengakar, maka sudah seharusnya ia diberangus. Bukan malah dinormalisasi.


Rujukan

Budi Harsoyo, “Mengulas Penyebab Banjir di Wilayah DKI Jakarta Dari Sudut Pandang Geologi, Geomorfologi, dan Morfometri Sungai”, Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, 2013.

Arsip Nasional Republik Indonesia, Masalah Banjir di Batavia Abad ke-XIX, 2003.

Arief Rosyidie Banjir: Fakta dan Dampaknya, Serta Pengaruh dari Perubahan Guna Lahan, Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol. 24 No. 3, Desember 2013, hlm. 241 - 249.

P. Nugro Raharjo: 7 Penyebab Banjir di Wilayah Perkotaan yang Padat Penduduknya, JAI 

Vol.7 No. 2, 2014.

Blaikie, Piers, et.al., At Risk: Natural Hazards, People’s Vulnerability, and Disaster, London: Routledge, 1994, hlm. 124.

Husain, B. Sarkawi, Banjir di Kota Surabaya Paruh Abad ke-20, Penerbit Ombak, 2020. 



Koran

Leeuwarder courant: surat kabar utama Friesland 17-06-1960

De Tribune, Stand: soc. demo weekblad, 14 Februari 1918.

Dagblad van Noord-Brabant, 28 Oktober 1937.

De Sumatra Post, 12 Maart 1913.


Penulis: Pramadam Muhammad Anwar

Editor: Artaqi Bi Izza A.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Essence

                 (Photo by Pramadam Muhamad Anwar) One photo, millions of meanings. Yep, you read it correctly. Protesting, couples holding hands, merchants trying to sell their products to the protesters hoping that they could achieve some revenues by selling their stuff.  Motorbikes, especially scooters were parked at the side of the road.  Water Cannon, that was being parked inside the Palace of the Governor of East Java,  (a car-like vehicle that is used by the Indonesian Police) was bursting its content, pressurized-water towards the protesters.  During the protest in Surabaya, (24/3/2025), the atmosphere that arose from the situation was just like one of The Beatles’ song called Helter Skelter . It was very tense and kind of intriguing to be able to stand as one of the protesters towards the Government’s Policy about The National Indonesian Army Regulation.  Estimated over hund...

Peran Pendidikan, Kesehatan, dan Hak Pekerja

Pendidikan sebagai Fondasi Pendidikan adalah fondasi utama dalam pembangunan masyarakat yang adil, beradab, dan bebas. Dalam kerangka Sosialisme Demokratis, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana mencetak tenaga kerja, melainkan sebagai instrumen pembebasan manusia. Tujuan pendidikan bukan untuk menundukkan individu kepada sistem yang otoriter atau tunduk kepada dogma-dogma lama yang tidak rasional, melainkan membangun manusia yang berpikir kritis, rasional, beradab, dan berani mempertanyakan ketimpangan serta ketidakadilan di sekelilingnya. Rasionalitas dalam Pendidikan Pendidikan harus berakar pada rasionalitas, bukan pada mistikalisme, fanatisme buta, atau tradisi yang tidak relevan dengan kemajuan akal manusia. Namun demikian, nilai-nilai budaya tetap dihormati sejauh budaya tersebut selaras dengan nalar, memperkuat semangat egalitarianisme, dan menghargai martabat manusia. Pendidikan yang rasional tidak memusuhi budaya, tetapi mengkritisinya dan memilih aspek-aspek yang m...

Ekonomi Kerakyatan dan Ketimpangan Sosial di Indonesia

  Pendahuluan: Sebuah Gambaran Umum Memasuki pertengahan tahun 2025, ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang cukup kuat setelah berbagai gejolak global seperti krisis energi, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian pasar finansial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,12% pada triwulan II tahun 2025, sedikit meningkat dibanding kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, ekspor komoditas utama, serta stabilitas moneter yang relatif terjaga. Namun dibalik angka pertumbuhan yang tampak menjanjikan tersebut, tersimpan sebuah ironi sosial yang mencerminkan jurang ketimpangan yang kian melebar. Kaum proletar dan rakyat kecil kian terdesak oleh kekuatan borjuasi modern yang menguasai sektor finansial, industri besar, dan politik kebijakan. Kelas menengah, yang semestinya menjadi penyeimbang, justru semakin terbebani oleh inflasi, stagnasi pendapatan, serta ketidakpastian pekerjaan...