Langsung ke konten utama

Pengobjekkan atau Kebermanfaatan? Mengintip Pandangan Sartre tentang Relasi Manusia

 



Bayangkan, ketika anda bertemu dengan seseorang. Lalu anda berinteraksi dengan orang tersebut. Satu hal yang pasti adalah anda dengan orang tersebut mengalami suatu fenomena timbal balik yang niscaya terjadi.  Entah baik atau buruk, timbal balik akan terjadi dalam hubungan manusia. 


Jika kita berprasangka, setidaknya positif, maka kita bisa melihat bahwa interaksi manusia tersebut merupakan sebuah langkah untuk mendapatkan manfaat satu sama lain. Bahasa biologisnya, Simbiosis Mutualisme, saling menguntungkan dan diuntungkan.


Sebaliknya, jika kita mendapat hal buruk dari orang lain, tetapi kita tidak mendapatkan apa-apa, itu merupakan simbiosis parasitisme. Sedangkan, jika kita berbuat baik terhadap seseorang, tetapi kita mendapati keburukan, itulah kehidupan. 


Secara singkat, begitulah hubungan antar manusia. Bisa saling memberikan kebermanfaatan atau justru keburukan. Atau bahkan, saling bertolak belakang. 


Pengobjekkan atau Kebermanfaatan?


Jean-Paul Sartre, salah seorang filsuf beken asal Prancis, memberi pandangan yang cukup unik terkait relasi antarmanusia. Ia memandang bahwa relasi antarmanusia adalah saling merendahkan satu sama lain. Dalam bukunya, L'être et le Néant hal tersebut dilukiskan. 


Singkatnya, hubungan manusia adalah konflik, clash atau bentrokan. Apa maksud dari saling berkonflik atau saling merendahkan tersebut? Manusia, menurut Sartre, saling mengobjekkan satu sama lain, atau bahasa lainnya adalah saling merendahkan, sehingga hubungan antarmanusia menjadi konflik.   


Menurutnya, menjadikan manusia lain sebagai objek adalah cara manusia merendahkan satu sama lain. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Prof. Drijarkara menyebutkan bahwa menjadikan objek manusia lain adalah menjadikan manusia lain sebagai kepentingannya. Seperti contoh dalam kasus politik, seorang politisi menjadikan orang lain sebagai objek kepentingannya, entah dalam konteks kekuasaan atau pragmatisme semata. 


Contoh lain dari hal ini adalah, ketika seseorang mencintai orang lain, ia kerap kali menjadikan orang lain sebagai sumber kebahagiaannya, sehingga orang tersebut menjadi objek kebahagiaan bagi si pecinta. 


Sartre memang memandang hubungan antarmanusia sebagai sekadar pengobyekkan atau konflik dalam karyanya, L'être et le Néant. Akan tetapi, ia berangsur-angsur menjelaskan hubungan antarmanusia secara lebih komprehensif di karya-karya Sartre selanjutnya, seperti dalam Critique de la raison Dialectique dan Cahiers pour une morale


Pemikiran Sartre ini juga bisa dilihat dengan perspektif yang lebih “optimistis” dengan cara membalik pemikiran kita. Jika Sartre berpandangan bahwa manusia saling merendahkan atau menjadikan manusia lain sebagai objek kepentingannya, maka sebetulnya, secara optimis, hubungan antarmanusia dapat dilihat dari sudut pandang kebermanfaatan satu sama lain. Alih-alih berpikir manusia sebagai makhluk yang saling berkonflik dan saling mengobjekkan, bagaimana jika manusia sejatinya makhluk yang saling mencari kebermanfaatan di antara satu sama lain?


Dalam konteks salah satu agama Abrahamik, Islam berperan sebagai aktor yang mampu memandang bahwa manusia yang paling baik adalah manusia yang paling berguna bagi orang lain. Sartre yang atheis tentu tak sepakat dengan pemikiran seperti itu, karena berguna bagi orang lain berarti menjadi objek orang lain.


Sedangkan Islam sendiri justru berpandangan sebaliknya dari apa yang Sartre kemukakan. Islam tidak memandang orang lain sebagai objek sesama manusia, tetapi justru sebagai sumber kebermanfaatan satu sama lain.


Mengingat bahwa dalam Islam dikedepankan untuk saling berbuat baik dan tulus dari hati, bahkan didorong untuk menjadi orang yang paling berguna di antara manusia, tentu saja pemikiran Islam bertolak belakang dari pemikiran Sartre yang mengatakan bahwa setiap manusia adalah objek yang saling merendahkan bagi manusia satu dengan yang lainnya.


Meski demikian, konsep ketulusan tersebut juga masih selaras dengan apa yang Sartre sebut dengan pengobyekkan. Karena ketika seseorang menjadi tulus dalam membantu seseorang, ia seakan-akan tidak menjadikan orang lain obyek kepentingannya. Akan tetapi, jika kita pikir secara radikal, maka ditemukanlah pengobyekkan bahkan dalam ketulusan.


Ketika seseorang melakukan sesuatu dalam ketulusan, orang tersebut kadangkala memanfaatkan orang lain sebagai obyek ketulusannya, untuk mendapatkan ketulusan dalam hati orang tersebut, maka ia menjadikan orang lain sebagai obyek ketulusan tersebut.


Singkatnya, terkadang orang yang membantu tersebut menggunakan orang lain sebagai obyeknya dalam rangka menggapai ketulusan. 


Tulisan ini bukan bermaksud untuk mengadu pemikiran Sartre dengan agama, tetapi justru ingin mencari pandangan yang lebih optimistis dibandingkan dengan apa yang disebutkan oleh Sartre sendiri, yang ternyata ditemukan di salah satu agama Abrahamik. 


Neraka itu Bernama “Orang Lain”


Pandangan Sartre terkait relasi antarmanusia yang ia sebut sebagai konflik, tak bisa dilepaskan dari salah satu pandangannya terkait orang lain, yaitu ungkapan “orang lain adalah neraka”. 


Bayangkan, ketika kita berdiri di atas meja di sebuah ruangan yang tidak terdapat orang lain selain anda di ruangan tersebut, maka tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi, jika tiba-tiba orang lain masuk ke dalam ruangan dan mendapati anda sedang berdiri di atas meja, maka orang lain tersebut setidak-tidaknya akan memberikan perasaan tidak nyaman kepada anda, karena mungkin anda akan dianggap aneh atau tidak sopan. 


Pandangan orang lain terhadap anda yang sedang berdiri di atas meja tersebut, bagi Sartre adalah “neraka”. Karena pandangan orang lain tersebut membatasi gerak-gerik kita, singkatnya jalan hidup manusia ditentukan oleh cara pandang orang lain. 


Pendapatnya terkait kenerakaan orang lain ini juga tidak bisa dilepaskan dari masa lalu Sartre. Ketika ia kecil, pandangan orang lain terhadapnya (pandangan sang ibu dan sang kakek) yang begitu positif, sedangkan ketika ia bersama dengan ayah tirinya, pandangan terhadapnya menjadi begitu negatif. Sartre mengartikan hal tersebut bahwa kehidupan manusia ditentukan oleh pandangan orang lain. 


Cara Melepaskan diri dari Pengobyekkan


Jika sebelumnya dalam Islam disebutkan bahwa manusia yang paling berguna adalah mereka yang memiliki manfaat bagi orang lain, maka kasarnya, menurut Sartre, manusia hanyalah menjadi sekadar obyek bagi manusia yang lain. 


Tulisan ini tidak akan memberi solusi secara Islami atau secara Abrahamik atau secara Agamawi, tetapi tulisan ini akan berupaya memberi solusi atas pengobyekkan tersebut dengan cara khas Sartrian. 


Cara yang dipilih Sartre dalam mengatasi pengobyekkan tersebut adalah dengan cara menidak pada objektifikasi orang lain terhadap suatu individu. 


Apa maksud dari menidak tersebut? Singkatnya, ia menolak untuk dikendalikan dengan pandangan orang lain yang mana hal tersebut menjadikan kebebasannya menjadi defisit. 


Contohnya, ketika seseorang masuk ke suatu jurusan tertentu di perguruan tinggi, maka orang lain akan cenderung memandang positif, netral, atau bahkan negatif suatu keputusan orang yang masuk ke perguruan tinggi tersebut. 


Untuk menjadi seorang eksistensialis yang menidak terhadap pandangan orang lain. Ia harus tidak mementingkan pendapat orang lain terhadap apa yang ia pikirkan terhadap pilihannya. 


Singkatnya, pilihan hidupnya haruslah otentik, tidak terpengaruh pandangan orang lain (selalu menidak terhadapnya), serta tidak mengalami Mauvise Foi atau ketidakontetikan.


Sebagai penutup, Sartre menekankan eksistensi sebelum esensi. Kebebasan manusia sejatinya ada, tetapi hal tersebut merupakan sebuah kutukan karena manusia  harus tanggung jawab atas apa yang ia pilih serta memanggul risiko yang harus ia hadapi. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Essence

                 (Photo by Pramadam Muhamad Anwar) One photo, millions of meanings. Yep, you read it correctly. Protesting, couples holding hands, merchants trying to sell their products to the protesters hoping that they could achieve some revenues by selling their stuff.  Motorbikes, especially scooters were parked at the side of the road.  Water Cannon, that was being parked inside the Palace of the Governor of East Java,  (a car-like vehicle that is used by the Indonesian Police) was bursting its content, pressurized-water towards the protesters.  During the protest in Surabaya, (24/3/2025), the atmosphere that arose from the situation was just like one of The Beatles’ song called Helter Skelter . It was very tense and kind of intriguing to be able to stand as one of the protesters towards the Government’s Policy about The National Indonesian Army Regulation.  Estimated over hund...

Peran Pendidikan, Kesehatan, dan Hak Pekerja

Pendidikan sebagai Fondasi Pendidikan adalah fondasi utama dalam pembangunan masyarakat yang adil, beradab, dan bebas. Dalam kerangka Sosialisme Demokratis, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana mencetak tenaga kerja, melainkan sebagai instrumen pembebasan manusia. Tujuan pendidikan bukan untuk menundukkan individu kepada sistem yang otoriter atau tunduk kepada dogma-dogma lama yang tidak rasional, melainkan membangun manusia yang berpikir kritis, rasional, beradab, dan berani mempertanyakan ketimpangan serta ketidakadilan di sekelilingnya. Rasionalitas dalam Pendidikan Pendidikan harus berakar pada rasionalitas, bukan pada mistikalisme, fanatisme buta, atau tradisi yang tidak relevan dengan kemajuan akal manusia. Namun demikian, nilai-nilai budaya tetap dihormati sejauh budaya tersebut selaras dengan nalar, memperkuat semangat egalitarianisme, dan menghargai martabat manusia. Pendidikan yang rasional tidak memusuhi budaya, tetapi mengkritisinya dan memilih aspek-aspek yang m...

Ekonomi Kerakyatan dan Ketimpangan Sosial di Indonesia

  Pendahuluan: Sebuah Gambaran Umum Memasuki pertengahan tahun 2025, ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang cukup kuat setelah berbagai gejolak global seperti krisis energi, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian pasar finansial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,12% pada triwulan II tahun 2025, sedikit meningkat dibanding kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, ekspor komoditas utama, serta stabilitas moneter yang relatif terjaga. Namun dibalik angka pertumbuhan yang tampak menjanjikan tersebut, tersimpan sebuah ironi sosial yang mencerminkan jurang ketimpangan yang kian melebar. Kaum proletar dan rakyat kecil kian terdesak oleh kekuatan borjuasi modern yang menguasai sektor finansial, industri besar, dan politik kebijakan. Kelas menengah, yang semestinya menjadi penyeimbang, justru semakin terbebani oleh inflasi, stagnasi pendapatan, serta ketidakpastian pekerjaan...