Langsung ke konten utama

Alfred von Tirpitz: Arsitek Ambisi Laut Kekaisaran Jerman

 

Potret Laksamana Agung Alfred von Tirpitz.

Alfred von Tirpitz, tokoh penting dalam sejarah angkatan laut Kekaisaran Jerman, memainkan peran penting dalam membentuk strategi maritim Kekaisaran Jerman pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Lahir pada tanggal 19 Maret 1849, di Küstrin, Brandenburg, Tirpitz berasal dari keluarga militer Prusia dan naik pangkat hingga menjadi Laksamana Besar Angkatan Laut Kekaisaran Jerman. Visi dan kebijakannya menjadi inti dari perluasan angkatan laut Jerman yang ambisius, sebuah langkah yang secara signifikan berkontribusi terhadap meningkatnya ketegangan di antara kekuatan-kekuatan Eropa pada tahun-tahun menjelang Perang Dunia I.


Tirpitz bergabung dengan Angkatan Laut Prusia pada tahun 1865, pada saat Jerman masih merupakan kumpulan negara-negara yang terfragmentasi, belum bersatu di bawah satu kekaisaran. Karier angkatan laut awalnya ditandai oleh ketelitian intelektual dan kompetensi teknis. Ia menunjukkan minat yang besar pada teknologi torpedo dan taktik angkatan laut, mengabdi dengan penuh keistimewaan dan secara bertahap naik pangkat. Pada tahun 1880-an, ia telah dikenal karena wawasan strategisnya, dan ia membantu membentuk pengembangan layanan torpedo Jerman. Ia memahami bahwa kekuatan ekonomi Jerman yang terus tumbuh perlu diimbangi oleh kekuatan militer di laut jika ingin dihormati di panggung internasional.


Ketika Kaiser Wilhelm II naik takhta pada tahun 1888, ia membayangkan Jerman sebagai kekuatan global dan melihat angkatan laut sebagai simbol penting prestise nasional. Ambisi kekaisaran ini sangat sejalan dengan pandangan Tirpitz sendiri. Pada tahun 1897, Tirpitz diangkat menjadi Sekretaris Negara Kantor Angkatan Laut Kekaisaran, sebuah peran yang secara efektif menjadikannya kepala Angkatan Laut Jerman. Dengan pengangkatan ini, Tirpitz memperoleh pengaruh yang belum pernah terjadi sebelumnya atas kebijakan angkatan laut dan program pembuatan kapal. Ia diangkat menjadi bangsawan pada tahun 1900, menjadi Alfred von Tirpitz, dan ia akan menggunakan jabatannya untuk meluncurkan perlombaan senjata angkatan laut yang besar dan kontroversial dengan Inggris.


Landasan warisan Tirpitz adalah apa yang disebut "Rencana Tirpitz", strategi angkatan laut jangka panjang yang bertujuan untuk membangun Armada Laut Tinggi Jerman yang mampu menantang Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Ia percaya pada doktrin yang dikenal sebagai "teori risiko", yang menyatakan bahwa jika Jerman dapat membangun armada yang cukup kuat untuk menimbulkan kerusakan signifikan pada Angkatan Laut Inggris dalam pertempuran—bahkan jika tidak sepenuhnya mengalahkannya—Inggris akan terhalang untuk terlibat dengan Jerman di laut. Untuk melaksanakan visi ini, Tirpitz memperjuangkan serangkaian Undang-Undang Angkatan Laut antara tahun 1898 dan 1912, yang mengesahkan pembangunan puluhan kapal perang, kapal penjelajah, dan kapal pendukung.


Rencana Tirpitz didukung oleh kampanye propaganda yang luar biasa yang bertujuan untuk mendapatkan dukungan publik dan politik untuk perluasan angkatan laut. Ia membantu mendirikan dan mendukung Flottenverein atau Liga Angkatan Laut, yang mempromosikan angkatan laut di kalangan kelas menengah Jerman. Melalui surat kabar, pamflet, dan pidato publik, Liga Angkatan Laut mendorong kebanggaan nasional dan menggambarkan angkatan laut yang kuat sebagai hal yang penting bagi keamanan dan masa depan ekonomi Jerman. Kampanye ini berhasil mengubah kekuatan angkatan laut menjadi simbol nasionalisme Jerman dan ambisi kekaisaran.


Namun, konsekuensi dari kebijakan Tirpitz berdampak jauh melampaui batas wilayah Jerman. Pembangunan armada yang agresif membuat pemerintah Inggris khawatir, yang menanggapinya dengan perluasan angkatan lautnya sendiri. Perlombaan senjata angkatan laut antara Inggris dan Jerman menjadi salah satu sumber ketegangan utama dalam sistem internasional sebelum perang, yang berkontribusi pada memburuknya hubungan Inggris-Jerman. Sementara Tirpitz percaya bahwa armadanya akan berfungsi sebagai pencegah strategis, pada kenyataannya, hal itu membantu memperkuat aliansi yang berseberangan dan meningkatkan permusuhan yang pada akhirnya akan meletus menjadi Perang Dunia I.


Laksamana Tirpitz dan keluarganya.

Meskipun awalnya mendominasi urusan angkatan laut, pengaruh Tirpitz memudar selama perang. Ia menganjurkan perang kapal selam tanpa batas terhadap konvoi Entente, karena yakin taktik itu dapat membuat Inggris bertekuk lutut. Namun, strategi ini kontroversial dalam pemerintahan Jerman dan menyebabkan ketegangan dengan para pemimpin sipil dan Kaiser sendiri. Pada tahun 1916, Tirpitz dipaksa mengundurkan diri, yang menandai berakhirnya karier politik dan militer formalnya. Meskipun demikian, pengaruhnya terhadap strategi angkatan laut Jerman dan perannya dalam berbagai peristiwa yang mengarah ke Perang Dunia sudah tertanam dalam sejarah.


Setelah perang, Tirpitz terlibat dalam politik nasionalis sayap kanan. Ia bergabung dengan Partai Rakyat Nasional Jerman (DNVP), yang menentang kebijakan Republik Weimar dan mendukung kebijakan revisionis yang bertujuan untuk membatalkan Perjanjian Versailles. Meskipun ia tidak pernah kembali ke posisi kekuasaan yang signifikan, Tirpitz tetap menjadi simbol ide militeristik dan kekaisaran Jerman sebelum perang.


Ia meninggal pada tanggal 6 Maret 1930, di Ebenhausen, Bavaria, setelah hidup cukup lama untuk melihat dunia yang ia bantu bentuk, jatuh ke dalam kehancuran dan kekacauan. Alfred von Tirpitz tetap menjadi tokoh yang kontroversial dan kompleks. Bagi sebagian orang, ia adalah seorang ahli strategi dan modernis yang brilian yang membawa Angkatan Laut Jerman ke jajaran kekuatan dunia. Bagi yang lain, ia adalah seorang militeris yang ambisinya berkontribusi langsung terhadap ketidakstabilan Eropa dan pecahnya konflik global.


Referensi:
Moses, John A. Alfred von Tirpitz: Architect of the Imperial German Battle Fleet. The War at Sea: Prosiding King-Hall Naval Conference 2013. 1914.


Penulis & Editor : Artaqi Bi Izza.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Essence

                 (Photo by Pramadam Muhamad Anwar) One photo, millions of meanings. Yep, you read it correctly. Protesting, couples holding hands, merchants trying to sell their products to the protesters hoping that they could achieve some revenues by selling their stuff.  Motorbikes, especially scooters were parked at the side of the road.  Water Cannon, that was being parked inside the Palace of the Governor of East Java,  (a car-like vehicle that is used by the Indonesian Police) was bursting its content, pressurized-water towards the protesters.  During the protest in Surabaya, (24/3/2025), the atmosphere that arose from the situation was just like one of The Beatles’ song called Helter Skelter . It was very tense and kind of intriguing to be able to stand as one of the protesters towards the Government’s Policy about The National Indonesian Army Regulation.  Estimated over hund...

Peran Pendidikan, Kesehatan, dan Hak Pekerja

Pendidikan sebagai Fondasi Pendidikan adalah fondasi utama dalam pembangunan masyarakat yang adil, beradab, dan bebas. Dalam kerangka Sosialisme Demokratis, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana mencetak tenaga kerja, melainkan sebagai instrumen pembebasan manusia. Tujuan pendidikan bukan untuk menundukkan individu kepada sistem yang otoriter atau tunduk kepada dogma-dogma lama yang tidak rasional, melainkan membangun manusia yang berpikir kritis, rasional, beradab, dan berani mempertanyakan ketimpangan serta ketidakadilan di sekelilingnya. Rasionalitas dalam Pendidikan Pendidikan harus berakar pada rasionalitas, bukan pada mistikalisme, fanatisme buta, atau tradisi yang tidak relevan dengan kemajuan akal manusia. Namun demikian, nilai-nilai budaya tetap dihormati sejauh budaya tersebut selaras dengan nalar, memperkuat semangat egalitarianisme, dan menghargai martabat manusia. Pendidikan yang rasional tidak memusuhi budaya, tetapi mengkritisinya dan memilih aspek-aspek yang m...

Ekonomi Kerakyatan dan Ketimpangan Sosial di Indonesia

  Pendahuluan: Sebuah Gambaran Umum Memasuki pertengahan tahun 2025, ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang cukup kuat setelah berbagai gejolak global seperti krisis energi, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian pasar finansial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,12% pada triwulan II tahun 2025, sedikit meningkat dibanding kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, ekspor komoditas utama, serta stabilitas moneter yang relatif terjaga. Namun dibalik angka pertumbuhan yang tampak menjanjikan tersebut, tersimpan sebuah ironi sosial yang mencerminkan jurang ketimpangan yang kian melebar. Kaum proletar dan rakyat kecil kian terdesak oleh kekuatan borjuasi modern yang menguasai sektor finansial, industri besar, dan politik kebijakan. Kelas menengah, yang semestinya menjadi penyeimbang, justru semakin terbebani oleh inflasi, stagnasi pendapatan, serta ketidakpastian pekerjaan...