Langsung ke konten utama

Sejarah Lagu Kebangsaan Aljazair

    


Lagu kebangsaan Aljazair, yang berjudul "Kassaman" (dari bahasa Arab berarti "Kami bersumpah"), memiliki sejarah yang mendalam dan bermakna yang berkaitan erat dengan perjuangan kemerdekaan negara tersebut. Lagu ini ditetapkan sebagai lagu kebangsaan pada tahun 1963, setelah Aljazair meraih kemerdekaannya dari kekuasaan kolonial Prancis. Namun, latar belakang dan penciptaan lagu ini jauh lebih awal, mencerminkan semangat juang dan identitas nasional bangsa Aljazair. 


Setelah memperoleh kemerdekaan, simbol-simbol perang menjadi simbol Republik Demokratik Rakyat Aljazair, sama seperti bendera faksi Front Pembebasan Nasional Aljazair menjadi bendera nasional. Menurut Elie Podeh, lagu-lagu nasional negara Arab (seperti halnya bendera nasional negara Arab) mencerminkan hibriditas simbolis. Lagu dan bendera nasional berupaya menggabungkan "artefak" modern, khususnya Barat, dengan simbol-simbol tradisional dan lokal yang mencerminkan budaya politik dan ideologis masyarakat Arab. Namun, berbeda dengan bendera-bendera Arab, yang menyampaikan beberapa identitas secara bersamaan—Islam, Arab, dan teritorial—lagu-lagu Arab menekankan patriotisme bagi negara dan keutamaan identitas lokal dan nasional—sebuah indikasi konsolidasi negara Arab teritorial.


Kassaman ('Kami Berjanji'), sebuah lagu pertempuran yang menjunjung tinggi nilai-nilai patriotik di 'medan perang' dan memuji pertempuran bersenjata sebagai satu-satunya cara untuk meraih kemerdekaan, menjadi lagu kebangsaan. Lagu ini, yang seharusnya hanya menjadi pilihan sementara, masih menjadi lagu kebangsaan Aljazair saat ini, yang memuji kejayaan FLN dan menyatakan "O Prancis, inilah hari perhitungan". "Kassaman" ditulis oleh seorang penyair terkemuka, Moufdi Zakaria, pada tahun 1956, saat berlangsungnya Perang Pembebasan Aljazair yang brutal melawan penjajahan Prancis yang dimulai pada tahun 1954. Moufdi Zakaria, yang lahir pada tahun 1928, adalah seorang aktivis nasionalis serta penulis yang sangat terpengaruh oleh kondisi sosial dan politik pada zamannya. Melalui puisi-puisinya, ia berusaha untuk menginspirasi rakyat Aljazair untuk melawan penindasan dan memperjuangkan kebebasan.


Lirik "Kassaman" menggambarkan tekad rakyat Aljazair untuk mempertahankan tanah airnya dengan semangat juang yang tinggi. Dalam lagu ini, terdapat nuansa patriotisme yang mendalam, di mana rakyat berjanji untuk mempertaruhkan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Muzik yang menyertainya juga diracik sedemikian rupa agar bisa menggugah semangat lagu dan mempersatukan rakyat dalam perjuangan.


Moufdi Zakaria, penulis lirik lagu "Kassaman".

"Kassaman" bukan hanya sekadar lagu; ia merupakan simbol dari perlawanan dan persatuan rakyat Aljazair. Dalam sejarahnya, lagu ini sering dinyanyikan dalam aksi-aksi protes dan dalam berbagai acara kebudayaan yang merayakan identitas Aljazair. Lirik-liriknya menyampaikan aspirasi untuk kebebasan, kehormatan, dan martabat, mencerminkan batin dan jiwa bangsa Aljazair yang merdeka.


Bagian paling terkenal dari liriknya menggambarkan tekad rakyat untuk tidak pernah menyerah. Frasa "Kassaman" sendiri menjadi ungkapan yang menegaskan komitmen untuk berjuang dengan sepenuh hati demi kebebasan. Lagu ini juga menandai momen bersatunya rakyat dari berbagai latar belakang etnis dan sosial dalam perjuangan melawan penjajah.


Selama tahun-tahun konflik antara Aljazair dan Prancis, "Kassaman" menjadi lagu yang sangat penting untuk memotivasi para pejuang kemerdekaan. Lagu ini diperdengarkan dalam berbagai pertemuan dan rapat, menjadi himne yang mengobarkan semangat juang. Dalam setiap liriknya, terdapat dorongan untuk tidak pernah meragukan tujuan perjuangan, dan hal ini memperkuat semangat kolektif di kalangan para pejuang.


Setelah Aljazair meraih kemerdekaan pada tanggal 5 Juli 1962, "Kassaman" diresmikan sebagai lagu kebangsaan pada tahun 1963. Pengesahan ini menjadi pengakuan atas kontribusi besar lagu tersebut dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan identitas nasional Aljazair. Sejak saat itu, "Kassaman" menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi Aljazair, diiringi dengan upacara kenegaraan dan perayaan hari kemerdekaan.


    Hingga saat ini, "Kassaman" tetap menjadi simbol kebanggaan bagi rakyat Aljazair. Lagu ini tidak hanya diajarkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari kurikulum pendidikan, tetapi juga dinyanyikan dalam berbagai acara kenegaraan maupun perayaan budaya. Selain itu, "Kassaman" turut mencerminkan nilai-nilai persatuan dan solidaritas di antara rakyat Aljazair.

Mohamed Fawzi, komposer musik "Kassaman".


    Di era modern, ketika tantangan baru muncul, lagu ini tetap relevan sebagai pengingat akan pentingnya bersatu untuk melanjutkan cita-cita kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh generasi sebelumnya. Dalam konteks globalisasi, "Kassaman" menjadi simbol bahwa meskipun zaman telah berubah, semangat juang dan kebanggaan terhadap identitas nasional harus selalu dipertahankan.


    Sejarah lagu kebangsaan Aljazair, "Kassaman," bukan hanya tentang melodi dan lirik, tetapi juga merupakan narasi yang kuat tentang perjuangan, harapan, dan kebangkitan bangsa. Sebagai lambang persatuan dan kemerdekaan, "Kassaman" terus menginspirasi generasi demi generasi, mengingatkan semua orang akan pentingnya berjuang untuk kebebasan dan martabat. Melalui lagu ini, warisan perjuangan rakyat Aljazair akan selalu hidup dan tak akan pernah dilupakan.


Rujukan

Podeh, Elie. "Anthems in the Arab world: A hybrid national symbol." Nations and Nationalism 28.4 (2022): 1379-1394.

Branche, Raphaƫlle. "The martyr's torch: memory and power in Algeria." The Journal of North African Studies 16.3 (2011): 431-443.


Penulis & Editor : Artaqi Bi Izza

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Essence

                 (Photo by Pramadam Muhamad Anwar) One photo, millions of meanings. Yep, you read it correctly. Protesting, couples holding hands, merchants trying to sell their products to the protesters hoping that they could achieve some revenues by selling their stuff.  Motorbikes, especially scooters were parked at the side of the road.  Water Cannon, that was being parked inside the Palace of the Governor of East Java,  (a car-like vehicle that is used by the Indonesian Police) was bursting its content, pressurized-water towards the protesters.  During the protest in Surabaya, (24/3/2025), the atmosphere that arose from the situation was just like one of The Beatles’ song called Helter Skelter . It was very tense and kind of intriguing to be able to stand as one of the protesters towards the Government’s Policy about The National Indonesian Army Regulation.  Estimated over hund...

Peran Pendidikan, Kesehatan, dan Hak Pekerja

Pendidikan sebagai Fondasi Pendidikan adalah fondasi utama dalam pembangunan masyarakat yang adil, beradab, dan bebas. Dalam kerangka Sosialisme Demokratis, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana mencetak tenaga kerja, melainkan sebagai instrumen pembebasan manusia. Tujuan pendidikan bukan untuk menundukkan individu kepada sistem yang otoriter atau tunduk kepada dogma-dogma lama yang tidak rasional, melainkan membangun manusia yang berpikir kritis, rasional, beradab, dan berani mempertanyakan ketimpangan serta ketidakadilan di sekelilingnya. Rasionalitas dalam Pendidikan Pendidikan harus berakar pada rasionalitas, bukan pada mistikalisme, fanatisme buta, atau tradisi yang tidak relevan dengan kemajuan akal manusia. Namun demikian, nilai-nilai budaya tetap dihormati sejauh budaya tersebut selaras dengan nalar, memperkuat semangat egalitarianisme, dan menghargai martabat manusia. Pendidikan yang rasional tidak memusuhi budaya, tetapi mengkritisinya dan memilih aspek-aspek yang m...

Ekonomi Kerakyatan dan Ketimpangan Sosial di Indonesia

  Pendahuluan: Sebuah Gambaran Umum Memasuki pertengahan tahun 2025, ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang cukup kuat setelah berbagai gejolak global seperti krisis energi, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian pasar finansial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,12% pada triwulan II tahun 2025, sedikit meningkat dibanding kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, ekspor komoditas utama, serta stabilitas moneter yang relatif terjaga. Namun dibalik angka pertumbuhan yang tampak menjanjikan tersebut, tersimpan sebuah ironi sosial yang mencerminkan jurang ketimpangan yang kian melebar. Kaum proletar dan rakyat kecil kian terdesak oleh kekuatan borjuasi modern yang menguasai sektor finansial, industri besar, dan politik kebijakan. Kelas menengah, yang semestinya menjadi penyeimbang, justru semakin terbebani oleh inflasi, stagnasi pendapatan, serta ketidakpastian pekerjaan...